Seperti siang- siang sebelumnya, matahari menyinari kota Semarang dengan terik. Tak tahu kenapa, mungkin berita tentang menipisnya lapisan ozon di bumi mulai terbukti benar. Sehingga sinar matahari dengan leluasa masuk ke bumi tanpa adanya penghalang. Atau memang kiamat sudah semakin dekat, yang nantinya matahari akan berada tepat di atas kepala kita. Wallahu a’lam.
Dan di siang yang terik itu, di pinggiran pasar, orang- orang menjajakan dagangannya. Dari mulai makanan, bumbu dapur, buah- buahan hingga pakaian bekas. Terlihat sedari tadi seorang anak kecil mondar- mandir di sekitar para penjual itu dengan membawa sepatu yang sudah rusak. Satu persatu orang- orang di sekitar tempat itu di datanginya.
“Bu, mau nggak tuker sepatu bekas ini dengan yang baru? Ini sepatu adik saya sudah rusak. Adik saya mau minta sepatu baru, tapi saya nggak punya uang” celotehnya sambil memperlihatkan sepatu butut yang sudah rusak itu.
Dan untuk yang kesekian kali orang- orang yang di mintai tolong itu malah pergi atau bahkan ada yang sampai menghardik.
“Memangnya saya bapakmu apa? Sana pergi! Sepatu rusak kayak gini di buang juga nggak ada yang mau mungut!” kata- kata kasar itu terlontar dari seorang tukang ojek.
Dan lagi- lagi orang- orang itu berlalu dari hadapan si anak. Sampai saat sore menjelang, kumandang adzan menandakan telah masuk waktu asar mengggema di seluruh sudut pasar. Anak itu tidak patah semangat, ia tetap berusaha mencari orang yang mau menukarkan sepatunya dengan sepatu yeang masih bisa di pakai.
“Wah, nggak ada yang mau nolong dari tadi. Ini sudah 5 jam. Padahal gambarnya harus segera di kirim ke Jakarta untuk segera tayang” Kata seorang laki- laki, yang sedari tadi mengawasi anak kecil itu. Namanya Andi. Dia adalah seorang kru acara reality show yang di tayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di ibukota.
“Sabarlah. Sebentar lagi mungkin ada yang menolong. Jangan menggerutu terus” ujar partnernya, seorang kameraman bernama Marwan.
“Kenapa kamu bisa sesantai itu? Bukankah besok pagi kamu ngambil gambar wawancara ekslusif dengan salah seorang pejabat Negara dan keluarganya? Berarti paling tidak sebelum jam 7 malam harus sudah pergi dari sini kan?”
“Kamu baru pertama kali terjun di lapangan ya?”
“Apa?”
“Tunggu saja. Di antara sekian banyak orang susah di sini, pasti ada yang akan menolong. Orang- orang seperti itu lebih punya jiwa sosial yang tinggi. Daripada orang- orang yang berduit”
“Potret Indonesia” ejek Andi sambil tertawa
“Jangan lupa, kita juga bagian dari negeri ini” sergah Marwan
“Ketimpangan di negeri ini sudah menjadi- jadi. Sudah berada di titik akut. Orang yang susah semakin susah, yang miskin semakin miskin. Sedangkan yang berkuasa malah rebut sendiri dengan masalah yang datangnya dari mereka sendiri. Tapi tahukah kamu kalau orang yang susah dan miskin itu lebih punya hati nurani daripada orang- orang yang berduit? Orang susah dan miskin itu masih bisa berbagi di tengah keterbatasan mereka. Sedangkan orang- orang di atas sana, yang berduit, justru serakah, menimbun harta sebanyak- banyaknya, gila kedudukan. Hah, benar- benar ironis sekali” terang Marwan menambahkan
“Kamu bicara panjang lebar sekali, seperti bakul obat saja” ejek Andi lagi
“Aku tahu karena aku melihatnya sendiri. Lewat kamera ini. Dari mulai presiden, pejabat Negara yang tak henti- hentinya mempermasalahkan Century, selebritis yang selalu berkontroversi, narapidana sampai derita rakyat jelata. Dan biasanya kamera inilah yang menyadarkanku seperti apa rupa negara kita tercinta ini”
Sesaat mereka berdua sama- sama terdiam. Dan pandangan mereka pun kembali pada si anak yang di beri tugas menemukan kebaikan di dalam keterbatasan itu.
Sampailah ia pada seorang nenek penjual barang- barang bekas yang berada di suatu tenda kumuh. Anak itu kembali meminta tolong kepada nenek tersebut, seperti yang ia lakukan dari tadi.
“Ambil saja yang menurutmu masih bagus,nduk. Tapi maaf nenek hanya punya sepatu bekas” ujar sang nenek tanpa basa- basi.
Setelah mengambil sepatu yang menurutnya masih bagus dan bisa di pakai adiknya, si anak pun pamit sambil sebelumnya berterimakasih pada nenek tadi.
(sebatas visualisasi)
***
Beberapa menit kemudian terlihat seorang laki- lagi mendatangi sang nenek penolong tadi.
“Nek, tau daerah genuk tidak? Kira- kira dari sini naik apa ya?” Tanya laki- laki itu.
“Ke genuk ya naik angkot merah itu. Nyabrang ke sana, nanti di tunggu saja. Sebentar lagi lewat” kata sang nenek memberi tahu.
“Oh iya mbah, tadi ada anak kecil, itu cucunya ya?”
“Bukan. Tadi nuker sepatu”
“Nuker sepatu gimana mbah?”
“Lha iya, katanya sepatunya rusak. Mau di tuker sama yang masih bagus. Ya tadi ta’suruh ngambil sendiri, adanya Cuma kayak gini”
“Nenek ikhlas bantu anak tadi?”
“Iya lah. Kasihan. Lha wong kita sama- sama susah”
“Karena nenek sudah menolong anak tadi, ini ada rezeki buat nenek” Kata si laki- laki tadi yang tiba- tiba saja memberikan beberapa lembar uang 50 ribuan.
“Opo iki nang?” Tanya sang nenek bingung
“Itu rezeki buat nenek, karena sudah baik hati sama anak kecil tadi” Ujarnya menjelaskan
Tiba- tiba saja tangan sang nenek meraih lengan pemuda tadi, walaupun beliau sedikit kesusahan bergerak karena kakinya lumpuh.
“Namamu sopo nang?”
“Andi mbah”
“Andi, ta’ do’akan kamu supaya rezekinya lancar, punya keluarga yang baik, punya anak- anak yang soleh”
“Amin mbah”
Terlihat nenek itu menangis tersedu- sedu sambil memengang uang tersebut.
“Nenek tinggal dimana?”
“Saya tinggal di sini, nang. Saya nggak punya rumah” kata sang nenek masih sambil menangis.
“Simbah punya anak?”
“Nggak punya”
Tiba- tiba saja sang nenek yang baru saja mendapat rezeki dari sebuah acara reality show itu sudah bercerita panjang lebar tentang dirinya yang ternyata bernama Sri Tuminah dan kenapa bisa sampai tinggal di situ.
***
*bersambung... *
Tidak ada komentar:
Posting Komentar